Kamis, 24 Februari 2011
Sahabat Seprti kepompong
"Persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu."
Persahabatan memang seringkali bagai proses metamorfosis kupu-kupu, karena setiap sahabat adalah "alarm hidup" bagi sahabatnya, dan dia adalah cermin bagi diri kita. Dia juga bisa menjelma menjadi "malaikat" dalam setiap episode kehidupan kita. Ia adalah "rembulan" yang seringkali menerangi di setiap lorong-lorong gelapnya malam. Ia adalah matahari di kala siang. Ia adalah payung ketika hujan. Dia ada ketika yang lain menghilang. Ia adalah orang yang selalu menjadikan kita lebih baik.
Sahabatku adalah mentari pagi yang mampu memberi energi bagi qalbu yang lemah. Sahabatku adalah setetes embun pagi yang mensejeterahkan bagi jiwa yang gersang. Sahabatku adalah sekuntum pohon nan rimbun yang senantiasa memberikan kesegaran bagi hati yang rapuh. Sahabatku adalah sebulir benih yang mampu menumbuhkan pohon-pohon keimanan dalam hati yang bimbang.
Sahabat adalah dua saudara kembar yang lahir dari rahim ibunda yang berbeda. Sahabat adalah orang yang selalu bersama dalam suka dan duka, mendukung setiap langkah kita di jalan kebaikan, dan dengan cinta senantiasa memberi masukan sepahit apapun untuk kemashalatan sahabatnya.
Sungguh, seorang sahabat adalah salah satu anugerah terindah yang DIA berikan. Bagiku, kehilangan seorang sahabat berarti kehilangan anugerah dariNYA. Dan sedikit pun aku tak sama sekali ingin kehilangan mutiara persahabatan yang telah terkalungkan di hati ini. Persahabatan sungguh sangat layak untuk kita perjuangkan, karena hidup tanpa persahabatan bagaikan syair tanpa melodi. Dunia akan terasa hambar tanpa rasa.
Teruntuk seorang sahabat, Tetaplah di sini, di satu sudut hatiku, meski nanti jarak dan waktu seringkali memisahkan kita, tapi sungguh tak kan ada yang mampu melepaskan untaian mutiara yang telah kita rajut bersama.

0 komentar:
Posting Komentar