Ada kan temen kamu yang bilang kalo ibadah itu nadk boleh pamrih, harus aemata-matakarena Allah. Ibadah ndak boleh karena minta dapat pahala atau minta Surga. Ndak boleh niat ibadah agar ndak dimasukin ke Neraka. Sebab kalo masih ada Surga atau pahala artinya masih ada pamrih. Dia bilang yang kayak gitu itu ibadahnya orang awam.
Katanya, kalo yang udah makrifat, ibadah ya sekedar untuk cariridho Allah. Ndak urusan nanti mau di masukin ke Neraka atau ndak boleh msuk Surga. Yang penting dapat ridho Allah, katanya. (Duh, berani amat ya, kok nggak takut ama Neraka).
Trus dia bilang manusia ada tiga tingkatan; Tingkat syriat, tingkat hakikat dan tingkat makrifat. Konon, masing-masing punya cara sendiri dalam beribadah, termasuk soal tujuan dan orientasinya. Konon pula ada yng berpendapat, kalo udah pada tingkat makrifat, ya udah ndak perlu shalat, puasa dan nglakonin kewjiban agama lainnya. (hebat amat, kan. Sampe-sampe ngalahin para Nabi?).
Sekarang gimana kamu ngejawabnya? Confuse jga kan? Makanya, belajar agama dong, biar ndk dikadali ama orang yang sok ngerti agama, padahal ngreka-ngreka.
Jawabnya mudah aja! Gini, bilango, agama Islam itu ya apa yang di wahyukan Allah ke Nabi Muhammad SAW. Yaitu Al-Qur’an dan Hadist. Jadi, apa sja yang nyangkut urusan agama kembalikan aja, ada dalilnya ndak dari Qur’an atau Hadist shahih? Trus jangan berhenti hanya di sini!, pemahamannya juga harus benar. Yaitu sesuai dengan pemahaman yang disampaikan oleh Nabi ke para sahabat, lalu Tabi’in dan Tabi’it tabi’in. ini prinsipnya. Maka, setiap apa saja yang dilakukan sebagai ajaran Islam harus dikembalikan ke prinsip ini. Lihat Qur’an surat An- Nisa’:59. Lalu sampaikan hadist shhih riwayat Imam Muslim dari Aisyah Ra, bahwa Rasulullah bersabda, “ barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak atas perintahku, maka ia tertolak.”
Okay, sekarang ujilah omongan temen kamu di atas dengan prinsip yang sudah kamu ketahui tadi. Benarkah ada dalil di Al-Qu’an atau Hadist yang ngejelasin bahwa ibadah itu harus semata ikhlas karena Allah? Nah, kalo yang ini benar. Diantara dalilnyaQur’an surat bayyinahayat 5 dan hadist Umar bin Khothob tentang niat.
Lanjut , sekarang soal niat ibadah ndak boleh minta pahala atau ngarepin surge, harus murni mencari ridha Allah. Yang pnting ridha Allah, meski dicemplungin ke Neraka. Apa bener demikian? Tegesnya, ada ndak larangan minta Surga dan mohon perlindungan dari Neraka? Coba dech minta para ustadz agar membolak-balik Qur’an dan seluruh kitab Hadist. Ndak akan ketemu dalill yang melarang minta Surga dan mohon perlindungn dari Neraka, bahkan sampe kamu tua bi ubanan, ndak akan nemukan dalilnya. Apalagi dibilang dimasukin neraka ndak apa-apa, asal dirihoi Allah. Ini mah keblinger! Mana ada orang yang dirihoi Allah dimasukin Neraka?.
Justru dalil-dalil yang ada malah sebaliknya. Al-Qur’an dan Hadist menegaskan agar kita mengharapdan minta Surga. Demikian pula dalil agar kita dilindungi Allah dari api Neraka. Dan dalil-dalil itu jumlahnya buanyak banget. Nabi Muhammad SAW jga mengajarka n agar pada saat tasyahud skhir kita membaca doa, Allahumma inni a’udzubika min ‘adzabi jahannama wa min ‘adzabil khobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaati wa min fitnatil masiihil dajjal.” Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa Neraka Jahannam dan dari siksa kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, juga dari fitnah Al-masih Ad-Dajjal.”(Hr. Bukhori Muslim).
Minta Surga dan dijauhkan dari Neraka itu tidak bertentangan dengan keikhlasan dan ridha Allah. Justru itulah yang yang dituntunkan Nabi Muhammad SAW. Kita disuruh takut banget ama Neraka, dan disuruh ngarepin banget bisa masuk Surga. Dan kita-kita sebagai umat Muhammad, harus ngikuti apa saja yang diajarkan Nabi SAW, ndak boleh mangkir bin nyeleweng sejengkal pun. Bahkan missal tidak percaya sebagian hadist saja, itu berarti kita udah ndak kesebutsebagai umat Muhammad. Kita harus taat terhadap apa saja yang disampaikan Nabi SAW lihat Qur’an surat Al-Hasyr:7. Tentu hadist-hadist yang sudah direkomendasikan para ahli Hadist tentang keshahihannya dan kebolehannya sebagai dalil atau hujjah. Soal kasta-kasta, kagak ada dalilnya. Yang ada dala Al-Qur’an atau Hadist adalah istilah-istilah seperti takwa, shalih, mukmin, muslim, muhsin. Kaggak pernah Nabi SAW bilang, kalo beliaua termasuk orang ma’rifat, umatnya disebut orang-orang awam dan sebagainya. Apalagi sampe bilang, ada sebagian orang yang boleh tidak mejalankan syariat agama karena udah pada tingkat makrifat. Suwer, kagak ada dalilnya!
Itu semua hanya karangan. Urusan agama ndak boleh ngarang-ngarang. Siapapun ndak boleh punya kewenangan dan otoritas untuk bikin-bikin aturan dlam urusan agama. Bahkan meski seorang ulama besar, dia harus manut 100% terhadap nabi SAW. Dan setiap orang, meski ulama besar, kalo pendapatnya bertentangan dengan Qur’an dan Hadist, maka harus di tolak.
Trus, coba siapa yang lebih baik dan lebih takwa dari Nabi SAW ? No body ,kan? Kamu-kamu kan tahu, kalo Nabi itu contoh yangsempurna dalam nglakonin perintah dan syariat Allah. Sampe-sampe kaki beliau bengkak karena tekun dan lamanya beliau shalat malam. Nah, lo! Jadi, nggak ada itu klasifikasi masih syariat atau udah makrifat sehingga ndak perlu njalanin shalat dan perintah agama linnya.
Kalo ada orang yang sudah mkrifat sehingga dia ndak mau shalat, puasa dan njalanin perintah agama lainnya, sebaliknya malah berzina, judi, mabuk-mabukan de el-el atas nama sudah makrifat maka saksikannlah bahwa dia udah keluar dari Islam.
0 komentar:
Posting Komentar